Minggu, 16 Desember 2007

Training on Effective Strategic Planning


Pada tanggal 12-15 Februari 2007, bertempat di Hotel Topas Bandung, URDI bekerjasama dengan LOGOTRI dan Pemerintah Propinsi Jawa Barat mengadakan Training on Effective Strategic Planning for local Development in Decentralization Era. Pelatihan yang diikuti 21 peserta dari Kota, Kabupaten dan Provinsi Jawa Barat serta 13 peserta dari 11 negara anggota LOGOTRI memberikan kesempatan terjadinya proses pembelajaran pengalaman dari negara-negara peserta untuk memperkaya studi kasus kabupaten/kota di Jawa Barat terkait dengan isu: Indeks Pembangunan Manusia, Perumahan dan Permukiman serta Revitalisasi Kawasan Pusat Kota.
Keluaran dari masing-masing kelompok kerja antara lain: teridentifikasinya strategic area yang perlu diperhatikan dalam isu yang dibahas, teridentifikasinya gaps and opportunities untuk masing-masing kasus dan terumuskannya solusi dan langkah-langkah yang direkomendasikan. Selanjutnya hasil dari pembahasan kelompok kerja ini perlu ditindaklanjuti dengan rencana aksi untuk masing-masing daerah.Upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (capacity building program) melalui pelatihan dan pendampingan merupakan bagian penting dari upaya menjangkau visi yang telah ditetapkan yaitu “Jawa Barat Dengan Iman dan Taqwa sebagai Propinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota.
URDI mempunyai misi, memajukan perkembangan perkotaan dan daerah yang berkesinambungan di Indonesia. Dengan training ini diharapkan para peserta dapat bertukar informasi, Ilmu Pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan pembangunan. Selain itu dapat meningkatkan kemampuan pemahaman terhadap berbagai aspek pembangunan melalui penelitian, analisa dan kebijakan, serta melakukan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat dalam upaya untuk membantu pemerintah menghadapi tantangan saat ini dan mendatang. Untuk menambah jaringan internasionalnya, URDI secara aktif sudah melibatkan di berbagai jaringan internasional seperti itu: LOGOTRI, Citynet, AAPH, EAROPH dan SEA UEMA Project CIDA- AIT.
Training on Effective Strategic Planning for local Development in Decentralization Era., ini URDI sebagai pihak penyelenggara yang dipilih dari hasil rapat LOGOTRI dan disepakati pada Pertemuan Dewan Umum di Shanghai, Maret 2006 lalu. Untuk memperoleh manfaat yang maksimal program pelatihan ini diikuti oleh peserta dari pemerintah darah di Indonesia. URDI mengajak pemerintah Popinsi Jawa Barat untuk berpartisipasi dalam pelatihan ini. Ternyata URDI mendapat sambutan baik dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat, karenanya pelatihan diadakan di Bandung mengingat Bandung adalah Ibu Kota Propinsi Jawa Barat dan Bandung merupakan Kota bersejarah bagi negara Asia – Africa.
Pada tanggal 12-15 Februari 2007 ,bertempat di Hotel Topas Bandung, URDI bekerjasama dengan LOGOTRI dan Pemerintah Propinsi Jawa Barat mengadakan Training on Effective Strategic Planning for local Development in Decentralization Era. Pelatihan yang diikuti 21 peserta dari Kota, Kabupaten dan Provinsi Jawa Barat serta 13 peserta dari 11 negara anggota LOGOTRI memberikan kesempatan terjadinya proses pembelajaran pengalaman dari negara-negara peserta untuk memperkaya studi kasus kabupaten/kota di Jawa Barat terkait dengan isu: Indeks Pembangunan Manusia, Perumahan dan Permukiman serta Revitalisasi Kawasan Pusat Kota.
Isu pertama adalah Indeks Pembangunan Manusia. Pemerintahan Provinsi Jawa Barat sudah memakai Indeks Perkembangan Manusia untuk tujuan pembanguan. Pemerintah Propinsi Jawa barat mulai 2005, sudah meluncurkan program dana bantuan bersaing (Program Pendanaan Kompetisi Akselerasi Peningkatan IPM Jawa Barat) untuk mempercepat perbaikan HDI di daerah. Dana bantuan ini yang disediakan kepada pemerintah daerah yang terpilih berdasarkan usul mereka. Program bersaing ini sudah menunjukkan usaha yang besar dari Propinsi Jawa Barat dalam mencapai pembangunan yang berkesinambungan yang berimbang di daerah dengan memperbaiki kapasitas sumber penghasilan manusiawi, kesejahteraan himpunan dan perkembangan ekonomi.
Isu kedua ialah Perumahan dan Permukiman. Penyediaan Permukiman khususnya untuk masyarakat miskin adalah tantangan besar untuk negara seperti Indonesia. Sekitar 36 % dari penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Kebanyakan dari mereka hidup di perkampungan kumuh. Mempunyai karakteristik bangunan yang tidak kokoh dan tidak mempunyai hak menetap, dan kekurangan air dan sanitasi lainnya. Penyediaan Permukiman khususnya untuk masyarakat miskin adalah tantangan besar untuk negara seperti Indonesia.
Isu ketiga adalah Revitalisasi Kawasan Pusat Kota. Indonesia dan Kota-kota di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang dahsyat, ini merupakan dampak dari perkembangan perkotaan. Di banyak kota perkembangan fisik mendominasi tata ruang perkotaan, perkembangan area perdagangan. Oleh karena itu area yang dianggap sudah tua tidak dimanfaatkan lagi oleh para pengembang. Selain dampak positif pertumbuhan ekonomi, perkembangan perkotaan mempunyai banyak dampak negatif, pada kawasan tua ada fenomena degradasi, yang dikhawatirkan pada akhirnya bisa mati.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai konteks pembangunan dalam era globalisasi dan desentralisasi, isu-isu local yang strategis serta perlunya Strategic Planning sebagai salah satu alat dalam perencanaan di daerah. Tentunya konsep dan teori Strategic Planning bukanlah sesuatu yang baru bagi para peserta, namun penekanan utama yang disampaikan dalam pelatihan adalah bagaimana menerapkan konsep strategic planning secara efektif dalam pembangunan di daerah.
Sistem pemerintah yang didesentralisasikan, pemerintah daerah lebih berwewenang dalam mengelola perkembangan. Ini adalah perubahan global dan ada tantangan eksternal lain yang dihadapi oleh semua pemerintah daerah di tingkat yang berbeda. Di lain pihak, ada tantangan yang lebih luar biasa untuk melaksanakan perkembangan yang berkelanjutan dilihat secara ekonomis, secara sosial dan lingkungan dilakukan secara berimbang. Banyak pemerintah daerah sudah membatasi sumber penghasilan dan kapasitas untuk mendapat tantangan itu, agar mereka memerlukan perencanaan strategis sebagai alat dalam mencapai perkembangan lokal yang efektif.
Keluaran dari masing-masing kelompok kerja antara lain: teridentifikasinya strategic area yang perlu diperhatikan dalam isu yang dibahas, teridentifikasinya gaps and opportunities untuk masing-masing kasus dan terumuskannya solusi dan langkah-langkah yang direkomendasikan. Selanjutnya hasil dari pembahasan kelompok kerja ini perlu ditindaklanjuti dengan rencana aksi untuk masing-masing daerah.Upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (capacity building program) melalui pelatihan dan pendampingan merupakan bagian penting dari upaya menjangkau visi yang telah ditetapkan yaitu “Jawa Barat Dengan Iman dan Taqwa sebagai Propinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010”. Pelatihan yang melibatkan peserta internasional, propinsi, kabupaten dan kota memberikan peluang untuk memperkuat jejaring, mendorong peningkatan kapasitas dan memperluas wawasan.
Pelaksanaan training dalam bentuk workshop dengan kasus nyata yang menggabungkan berbagai pengalaman berbagai negara dan studi kasus kota/kabupaten serta melibatkan peserta dari lingkungan praktisi, akademi dan peneliti memberikan kesempatan pembelajaran dan penguatan posisi serta kapasitas personal maupun institusi secara keseluruhan.
Efektivitas pelatihan dan workshop terhadap pelaksanaan kerja dapat ditingkatkan melalui persiapan peserta yang lebih terarah. Untuk itu diusulkan agar kepada seluruh peserta lokal dari propinsi dan kabupaten/kota diberikan penjelasan rinci tentang kegiatan paska pelatihan.
Tindak lanjut untuk peserta Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pelatihan tersebut meliputi:
-Pembahasan rencana tindak dengan pemangku kepentingan untuk pengembangan kawasan Tamansari Kota Bandung
-Pembahasan rencana tindak peningkatan kualitas kesehatan di masyarakat untuk menunjang peningkatan IPM indeks kesehatan Garut
-Pembahasan rencana tindak revitalisasi pusat kota Sukabumi
-Pembahasan rencana tindak peningkatan kualitas permukiman kawasan Utama Cimahi.
-Pembahasan rencana tindak sinergi lintas sektor pada pelaksanaan perbaikan perumahan dan permukiman di 74 Desa terpilih di Kabupaten Bandung.
Selain itu terdapat beberapa usulan kegiatan kedepan yang dapat dilaksanakan lebih lanjut dalam rangka pengembangan program peningkatan kapasitas yang lebih sistematis dan terpadu antara lain: (i) Training Workshop untuk kota/kabupaten lain di Jawa Barat, (ii) Pengembangan proposal peningkatan kapasitas pemerintah daerah untuk diajukan kepada AusAID kemitraan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Urban and Regional Development Institute (URDI) dan Centre for Local Government (CLG), University of Technology Sydney (CLG UTS).
Dari Seluruh program pelatihan ini, diharapkan dapat menyumbang dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah di Propinsi Jawa Barat yang memakai perencanaan strategis sebagai alat dalam memecahkan persoalan pembangunan di daerah. Dengan partisipasi peserta internasional dan narasumber, kita bisa saling berbagi pengalaman dari negara lain yang bisa disadur untuk pembangunan daerah di Indonesia terutama Pemerintah propinsi Jawa barat. Semoga program pelatihan ini dapat merangsang tindakan nyata yang dilakukan untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Penyelarasan Strategi Manajemen Proyek dengan Strategi Organisasi




Tidak bisa dimungkiri, kini, project-driven organization menjadi tren sekaligus kebutuhan perusahaan dalam rangka meraih performa yang prima. Naik-turunnya performa bisnis direfleksikan dengan naik-turunnya keberhasilan investasi dalam aneka proyek yang digelar.
Namun, keberhasilan suatu proyek kerap kurang memberi kontribusi optimal terhadap performa bisnis organisasi. Acap kali, keberhasilan suatu proyek juga hanya bersifat jangka pendek, dan tidak menunjang performa bisnis jangka panjang. Hal ini muncul karena sejak awal terjadi kesalahan memilih portofolio investasi dan skala prioritas.
Ada dua hal utama yang selama ini menjadi kendala dalam melakukan investasi proyek, yaitu (1) Apakah organisasi telah memilih proyek yang tepat bagi investasinya (Do the right projects)?;



(2) Apakah organisasi telah melakukan implementasi proyek secara tepat (Do the projects right)?
Apakah organisasi telah memilih proyek yang tepat bagi investasinya? Pemilihan proyek yang tepat adalah kunci keamanan investasi. Terminologi "tepat" hendaknya diterjemahkan dalam pengertian bahwa proyek harus sudah mengantisipasi strategi organisasi, yang mencakup faktor eksternal (permintaan pasar, tingkat kompetisi, dan sebagainya) dan internal (ketersediaan serta kemampuan SDM, dana, dan sebagainya).
Strategi organisasi jadi acuan utama dalam mengalkulasi portofolio investasi. Strategi yang baik adalah bersifat jangka panjang, terukur dan realistis: memperhatikan keseimbangan eksternal dan internal. Hal terakhir merupakan elemen terpenting di mana strategi seharusnya disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kapabilitas internal, sehingga tidak terjadi over ataupun under estimation dalam penentuan target.
Dalam era perubahan teknologi yang cepat dan tingkat kompetisi yang sangat ketat, strategi organisasi hendaknya tidak bersifat rigid, melainkan fleksibel. Tingkat kelenturan akan memudahkan proses transformasi pola strategi, pada tingkat kebutuhan di mana strategi harus diperbarui atau sama sekali berubah arah. Ketidaksiapan merespons perubahan akan menjadi kendala yang merugikan proses translasi dari strategi menjadi aksi, yang pada akhirnya membuat orang berpikir bahwa strategi organisasi hanyalah jargon kosong yang sama sekali tidak membumi.
Apakah organisasi telah melakukan implementasi proyek secara tepat? Pemilihan proyek yang tepat bukan segalanya, jika dalam pelaksanaannya (implementasi) tidak sesuai dengan rencana penggunaan sumber daya (biaya, mutu, waktu). Implementasi konsep dan metodologi manajemen proyek yang benar menjadi faktor dominan, di samping faktor kompetensi manajer proyek memahami ilmu manajemen proyek itu sendiri dan pengetahuan yang mapan terhadap tools dan software manajemen proyek.
Belakangan ini muncul tren, organisasi tidak lagi mengimplementasikan single-project untuk menunjang portofolio investasinya, melainkan multiproyek. Pendekatan konsep manajemen proyek terhadap pelaksanaan multiproyek ini tentunya memerlukan tingkat sinkronisasi dan integrasi yang tinggi, terutama dalam hal manajemen sumber daya.



Keterpaduan kedua aspek internal dan eksternal di atas sangatlah dipengaruhi kecermatan dalam melihat tingkatan kebutuhan pengambilan keputusan -- terdapat dua tingkatan yang berbeda: strategis dan taktis. Ketidaksinkronan kedua tingkatan adalah masalah utama penyelarasan strategi proyek dengan strategi organisasi. Sebaliknya, keberhasilan menerjemahkan strategi ke tingkatan taktis menjadi kunci keberhasilan melakukan setting awal penentuan portofolio investasi yang benar sehingga bisa mencapai investasi yang optimal.
Dewasa ini berkembang berbagai metode yang membantu proses penjabaran ini, seperti balanced score card yang menerjemahkan strategi organisasi menjadi key performance indicator di masing-masing unit organisasi. Namun, tentunya metode ini belumlah memadai tanpa adanya kombinasi dengan metode manajemen proyek/program yang baik untuk penjabaran ke tingkatan taktis. Metode manajemen proyek/program yang kredibel amat vital dalam menunjang penjabaran misi-visi menjadi kenyataan, sehingga tingkat pencapaian project return on investment bisa terukur, termonitor dan terkendali.
Pada akhirnya, jika ingin mendapatkan tingkat pencapaian investasi dan sustainability yang optimal, organisasi harus cermat memilih proyek-proyeknya yang tepat dan mengimplementasikannya dengan tepat pula (Do the right projects right).

Penyedia Jasa Komunikasi Informasi Perlu Serius Buat Rencana Darurat

Belajar Dari Banjir JakartaPenyedia Jasa Komunikasi Informasi Perlu Serius Buat Rencana Daruratssnet Sebagai langkah antisipatif, secara teknis harusnya ada beberapa jalur alternatif yang dipunyai oleh operator atau penyedia jasa untuk kondisi darurat.Bencana alam memang tidak bisa diduga kapan akan terjadi dan bagaimana akibatnya. Namun bukan berarti kita sebagai manusia sampai dengan batas tertentu tidak dapat mengantisipasinya.LENDY WIDAYANA Managing Partner IDD Research and Documentary pada suarasurabaya.net, Sabtu (03/02) mengatakan, terganggunya Sentral Telepon Otomat (STO) Semanggi II di Jl. Gatot Soebroto yang sangat strategis di Jakarta karena banjir Jumat (02/02) kemarin mengakibatkan puluhan ribu SST di wilayah segitiga emas terputus. Sebenarnya ini sudah pernah terjadi ketika jaman Menparpostel JOOP AVE tahun 1996 lalu.Kata LENDY, di layanan internet kerugian juga dialami oleh pelanggan internet Speedy PT. Telkom. Karena simpul akses se Indonesia ke gerbang internet internasional yang berada di Jakarta mengalami gangguan juga akibat banjir. Praktis pelanggan Speedy PT. Telkom di luar Jakarta pun terkena imbasnya.Menurut LENDY, populasi pelanggan di Jakarta memang besar, namun pelanggan Speedy bukan hanya di Jakarta. Di manapun mereka, sebagai pelanggan semuanya menuntut ketersediaan (availability) akses yang sama. Jika menyangkut layanan publik secara massal seharusnya desain sistem informasi komunikasi wajib memasukkan unsur disaster recovery (pemulihan dari bencana) dan contingency planning (rencana darurat) sebagai bagian dari SLA (Service Level Agreement). Dari waktu ke waktu masyarakat kita hidupnya sudah semakin tergantung dengan sistem komunikasi informasi. Jadi jika terjadi gangguan, dampak ekonominya pastilah sangat besar."Sebagai langkah antisipatif, secara teknis harusnya ada beberapa jalur alternatif yang dipunyai oleh operator atau penyedia jasa. Apabila tidak dalam kondisi darurat jalur alternatif tersebut juga dapat digunakan untuk memperbesar total aggregate bandwidth. Protokol IP (Internet Protocol) sebenarnya didesain untuk menjadi tulang punggung komunikasi data yang memungkinkan kesetaraan bagi semua layanan dari lapisan fisik, jaringan, hingga aplikasi. Artinya, sistem dapat tetap dan akses tetap dapat dilakukan sekalipun terjadi gangguan baik itu mulai sambungan fisik komunikasi, hingga seluruh data atau informasi yang ada dalam sistem," paparnya.Menurut LENDY, semuanya memang perlu biaya, tetapi cost dan investasi sistem yang redundant seperti itu adalah konsekuensi logis jika melayani publik. "Saya yakin, operator atau penyedia jasa apalagi pemain skala nasional pasti mampu membangun sistem seperti itu" ujarnya.Masih dalam kerangka rencana darurat, kata LENDY WIDAYANA, antar operator atau penyedia jasa seharusnya mempunyai kerjasama khusus untuk menghadapi keadaan darurat. Misalnya, pembukaan jalur akses ke gerbang Internet yang dimiliki masing-masing operator secara reciprocal (timbal balik). Secara teknis, hal tersebut sangat memungkinkan. Secara finansial, bisa dihitung. Masalahnya mungkin hanya pada good will untuk melakukan koordinasi satu sama lain."Masih banyak tantangan ke depan di sektor infrastruktur informasi komunikasi, kebersamaan kita sebagai operator, pebisnis dan praktisi khususnya dalam situasi darurat seperti saat ini sedang diuji," tuturnya pada suarasurabaya.net.

Telkom Gandeng Clarity Integrasikan Layanan

Jakarta - PT Telkom Tbk menggandeng Clarity untuk menyukseskan program TeNOSS (Telkom Network Operational Support System) terkait penyelenggaran program Infusion 2008.Perusahaan penyedia sistem pendukung operasional (Operational Support System/OSS) industri telekomunikasi asal Australia itu dipilih Telkom demi memberikan pelayanan kepada pelanggan serta meningkatkan efisiensi perusahaan.Wakil Dirut PT Telkom Garuda Sugardo mengatakan layanan TeNOSS diharapkan dapat menjangkau seluruh Divisi Regional Telkom pada April 2008.TeNOSS yang mulai dikembangkan sejak Juni 2006 diharapkan dapat membantu pelanggan untuk memonitor keandalan produk melalui fasilitas online monitoring bagi pelanggan korporasi, serta jaminan kualitas produk dan layanan bagi pelanggan perorangan.Menurut Garuda, apabila selama ini produk yang dikembangkan Telkom masih terpotong-potong, maka dengan adanya sistem ini diharapkan dapat diintegrasikan dalam satu jaringan. "Dengan demikian apabila terjadi gangguan dapat dideteksi secara dini serta dapat disampaikan kepada pelanggan," tukasnya di Hotel JW Marriot, Kamis (11/1/2007).Bagi Telkom, dengan program TeNOSS tersebut akan mempercepat pengambilan keputusan kepada pelanggan, sehingga perusahaan dapat lebih proaktif sebelum terjadi gangguan. Melalui TeNOSS, ujar Garuda, Telkom juga dapat mengetahui kemampuan alat produksi, kapasitas alat produksi, dan dapat memantau dan mengelola gangguan secara efisien sampai dengan lima persen. Dengan demikian target, lanjutnya, Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) diharapkan tumbuh sampai dengan 3-5 persen.Telkom sendiri menganggarkan belanja modal untuk program Infusion 2008 mencapai Rp 510,5 miliar. Di 2006, investasi yang telah dikeluarkan sebesar Rp 92,5 miliar, maka pada 2007 mencapai anggaran yang tersisa sebesar Rp miliar.Dukungan yang diberikan TeNOSS sendiri tidak terbatas pada produk suara, tetapi juga data, Internet, serta produk lainnya yang termasuk dalam jaringan generasi berikut (Next Generation Network/NGN).CEO Clarity Tomislav Matic mengatakan Telkom telah menunjukkan diri merupakan perusahaan yang memiliki wawasan ke depan dalam mengadopsi NGN."Saat ini Telkom telah menjadi bagian dari pelanggan kami lainnya di dunia yang akan memiliki manajemen infrastruktur, manajemen layanan pelanggan, dan sistemn penagihan dalam satu sistem," tukas Tomislav yang enggan menyebutkan nilai investasi yang ditanamkannya pada Telkom.Selain Telkom, perusahaan itu juga menjadi penyedia bagi operator Telekom Malaysia dan sejumlah operator di Australia, Filipina, dan Sri Lanka.

Menciptakan Good Governance

Category: Strategic Planning

Fokus pembahasan saya ialah memberi wawasan baru untuk menciptakan pemerintahan yang baik melalui strategic planning, yang telah saya pelajari di FKUI sejak tahun 1997. Dengan dalih pengalaman pribadi ini saya membuat judul: ‘Creating Good Governance’. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana sistem Strategic Planning untuk Government dan Nonprofit Organization dapat mereformasi suatu pemerintahan yang sedang diterpa berbagai kesulitan, misalnya dalam pendidikan atau kesehatan. Berbagai acara talkshow televisi juga akhir-akhir ini membahas tentang banyak masalah governance yang berakhir dengan pertanyaan ‘bagaimana melaksanakannya’. Pak Soegeng Sarjadi di Q Channel setiap kali bertanya ‘How to do it?’ Mereka mengupas masalah sepertinya dengan ‘Why?, What?, Who?, When? ……. dan How? (to do it). Rupanya para panelis belum sadar (atau sudah?) bahwa ada sistem (kendaraan) yang dapat mengantar mereka ke bagaimana melakukannya dengan langkah pasti, yaitu melalui ‘Strategic Planning dengan loop-model’. Model ini berasal dari Amerika Serikat, terkenal di dunia, tapi sayang Indonesia tidak menangkapnya. Ia berkembang dari strategic planning untuk bisnis sejak beberapa dekade, yang akhirnya dimodifikasi untuk pemerintahan dan non-profit organizations. Satu undang-undang (Government Performace and Results Act (1993) ‘memaksakan’ semua Departemen dan Institut Pemerintah Amerika Serikat (termasuk semua universitas) untuk melakukan proses Strategic Planning ini. Dalam presentasi ini hendak saya share dengan anggauta AIPI tentang apa yang saya anggap sesuatu yang strategis penting bagi reformasi bangsa Indonesia.Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Toeti Herati yang telah menangkap bola ide ini sewaktu kami kebetulan harus menunggu di airport karena keterlambatan pesawat ke Yogya selama 3 jam lebih, sehingga saya dapat mendongeng mengenai strategic planning dan GPRA.Good Governance Pengertian ‘Good Governance’ telah menjadi kata kunci selama kira2 10 tahun terakhir. Namun, suatu istilah asing dapat menimbulkan masalah pengertian semantik bila kita hendak berbicara dalam arti padanan itu dalam bahasa Indonesia. Governance mengandung arti ‘manajemen suatu negara yang bersifat bijak dan berilmu’. Dalam bahasa Indonesia kita sudah lama memakai istilah ‘Pemerintah’, yang kata kerjanya ‘memerintah’ (to rule), sehingga arti otoritas dan kekuasaan yang menonjol, bukan sifat manajemen-nya yang baik dan bijak. Bahayanya ialah bila suatu Pemerintah sampai terlalu besar kuasanya hingga sampai menindas. Berbahagialah kita karena Indonesia telah memasuki era demokrasi dalam berpolitik, sehingga tidak mungkin bisa berbalik lagi, tapi justru berkembang. Sayang perkembangan ini tidak dibarengi dengan keterbukaan dan akuntabilitas yang lebih besar, tapi malah kebebasannya yang sering dilanggar. Tentu bila dilakukan tidak terkendali akan menciptakan efek anarkhi dalam negara. Dalam konteks dan batasan ini akan saya menggunakan istilah good governance lebih lanjut (UNESCAP) (9) .Good Governance merupakan suatu outcome yang terdiri dari norma, suatu hasil akhir dari suatu proses. Di Indonesia proses ini biasanya diserahkan kepada pemimpinnya; bila itu departemen maka Menterilah yang menjadi komandan. Pengarahan lisan dari Presiden atau Wakil Presiden sering ada, namun prosedur-prosedur baku tertulis umumnya tidak tersedia. Juga situasi darurat sering membutuhkan reaksi cepat untuk diatasi dan bila sebelumnya tidak pernah terjadi, maka menterilah bertanggung jawab. Saya bukan ahli untuk itu, namun bila semua orang bertanya bagaimana (How?) kita melakukannya, pembahasan berkepanjangan sering tenggelam dalam membahas norma dan tidak membahas proses secara gamblang. Memang orang bilang: ‘The devil lies in details’. Di dalam pembahasan selalu diuraikan hal2 yang merupakan ‘bagaimana semestinya’, yaitu hal-hal normatif, seperti membahas ciri-ciri good governance. Tetapi bagaimana sampai kepada memperbaiki ciri-ciri yang defisien itu kita belum menemukan bagaimana harus menyelesaikannya dalam suatu sistem. Di setiap bidang kesulitannya berbeda, namun menyelesaikan kesulitan itu bisa dikemas dalam satu sistem, dan itu yang dapat dilakukan oleh strategic planning.Governance merupakan konsep dan berarti: proses pengambilan keputusan dan juga proses bagaimana keputusan itu ditentukan, diambil dan diimplementasikan. Ia juga mempunyai struktur formal dan informal untuk pelaksanaannya.Pemerintah formal merupakan pelaku yang sering dominan di Pemerintahan Pusat. Ia, seperti juga di tingkat Daerah, dibantu oleh pelaku-pelaku lain, terutama oleh pelobi, partai politik, donor internasional, perusahaan multi-nasional, angkatan bersenjata, kelompok agama, NGO, dsb. Mereka sering bisa ikut dalam pengambilan keputusan atau sedikitnya mempengaruhinya. Institut informal, seperti institut riset, pemilik tanah besar, juga bisa berperan mempengaruhi governance. Sering kelompok kriminal atau Mafia juga bisa menyusup mempengaruhi pemerintahan.Menurut dokumen ESCAP(9), Good Governance mempunyai 8 karakteristik utama: ia bersifat partisipatif, rule of law, keterbukaan, responsif, berorientasi konsensus, kesetaraan dan membela yang lemah, efektif dan efisien, dan akuntabilitas. Akuntabilitas merupakan fokus yang sentral; juga selalu disertai oleh keterbukaan (transparancy) dan menerapkan undang-undang (rule of law). Bila Good Governance merupakan norma yang ingin dicapai, maka strategic planning agak berbeda dalam pendekatannya. Benar strategic planning juga mendeskripsi ciri-cirinya, tetapi tujuan utamanya ialah mengimplementasikan visi/misi dalam suatu sistem yang akuntabel dan lebih terukur. Jadi, unsur-unsur Good Governance bisa menemukan partner yang sejati dalam sistem strategic planning, bukan berlawanan. Semua niat dan subyek pembahasan di QTV, misalnya, dapat menemukan partnership dengan sistem Strategic Planning. Strategic Planning Pada suatu hari sekitar bulan Mei 1997, dalam Komisi Guru Besar di FKUI Professor Sudraji Sumapraja telah mempresentasikan tentang strategic planning. Ia membahas suatu sistem bagaimana suatu universitas bisa memfokus pada misi dan gol yang diinginkan dalam waktu tertentu melalui strategic planning. Beliau mengusulkan supaya kami melakukan hal yang sama di fakultas kedokteran. Setelah saya mendengar uraian yang inovatif dan sangat menarik itu, saya yakin bahwa strategic planning dapat mengubah suatu institut yang sedang ‘sakit’. Saya adalah orang pertama yang ‘loncat’ memberi jawaban, dan bertanya ‘Apa anda serius mau melakukan itu dan bukan mau memulai sesuatu yang nanti akan gagal seperti begitu banyak upaya yang biasa kita lakukan?’ ‘Bila tawaran ini benar hendak melakukan reformasi seluruh fakultas dengan sungguh-sungguh maka saya akan menjadi orang pertama yang akan membantu anda’. Sejak itu saya bersama -dan bersatu- dengan beliau menjadi pendorong inisiatif ini, sehingga di tahun 1999 kita menyiapkan tulisan yang berjudul Creating the Future of The Faculty of Medicine University of Indonesia – Strategic Plan 2000 – 2010(6). Setelah saya pensiun di tahun 2001, Professor Sudraji dan Kawan -Kawan meneruskannya.Di samping itu saya tidak berhenti memikirkan nasib negara kita, mengapa harus terpuruk? Sambil mempelajari kepustakaan yang berkaitan dengan strategic planning saya menemukan satu undang-undang di Amerika Serikat yang mendasari dilakukannya strategic planning oleh semua unsur pemerintahan, yaitu semua departemen dan institut pemerintahan, serta universitas secara bersamaan. Amerika yang sudah mempunyai derajat tinggi keterbukaan dan akuntabilitas masih mengalami mis-management dan korupsi selama bertahun-tahun. Mereka telah mencoba memperbaikinya selama 30 tahun dengan berbagai upaya, tapi tidak pernah berhasil. Laporan Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) (2) menunjukkan bahwa kegagalan itu disebabkan karena peraturan itu selalu dibuat sebagai Instruksi Presiden, sehingga tidak mempunyai gaung yang semestinya. Walaupun undang-undang sudah disiapkan lama, tidak ada satu presiden-pun (sejak Presiden Reagan) yang mau menandatanganinya. Di tahun 1993 Presiden Clinton baru menandatangani bersama kongres The Government Performance and Results Act (GPRA 1993) (1), yang merupakan suatu jenis accountability act. Undang-undang ini dikaitkan dengan strategic planning yaitu: semua departemen dan institut pemerintah harus membuat Strategic Plan sebelum bisa menerima budget. GPRA tidak memuat sangsi seperti masuk penjara, tapi membuat suatu tindakan ‘give and take’ atau ‘carrot and stick’. Banyak birokrasi pemerintahan dipermudah, di antaranya penerimaan pegawai dipermudah dan budget menjadi lebih longgar. Keuangan harus dipertanggungjawabkan menurut output dan outcome Action Plan – yang biasa kita sebut ‘proyek’. Rencana harus dimasukkan dan dinilai oleh instansi lain, yaitu Office of Management and Budget. Bila disetujui barulah budget dapat diterima. Tenggang waktu untuk pelaksanaan baru dimulai tahun 1997, jadi 4 tahun setelah diundangkan. Satu ciri lain ialah bahwa pelaksanaan dan laporan (performance and report) harus dibuat dengan cara standard, sehingga bisa dibuat dalam suatu template. Ini berarti bahwa pekerjaan komputer akan membantu proses, dan walaupun pada tahun pertama sulit, di tahun-tahun berikutnya administrasi negara akan lebih cepat terselesaikan. Ini mempunyai makna yang sangat penting untuk mencapai kecepatan dalam alam globalisasi. Seperti dapat diterka, strategic planning berasal dari angkatan bersenjata, diterapkan dalam bisnis dan kemudian menyeberang ke organisasi non-profit dan pemerintahan. Bila bisnis berkembang pesat dan tidak diimbangi dengan inisiatif pemerintahan, maka situasi dalam alam globalisasi akan ketinggalan jauh. Situasi itu kita alami sekarang di Indonesia.Indonesia dan banyak negara lain juga berada dalam keadaan salah urus dan korupsi yang sangat merugikan negara masing-masing. Setelah GPRA-Strategic Planning disosialisasikan ke seluruh dunia oleh OECD, termasuk negara Asia Pacific, Singapore, Malaysia, dan Thailand telah menggunakan strategi ini. Strategic Plan dalam semua bidang (di Amerika Serikat, negara OECD dan negara lain) dapat dilihat dan di download secara bebas, terutama masalah pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan apa saja. Janggalnya, Indonesia belum kenal/menerapkan sistem yang sudah mendunia. Tidak satu institut pemerintahan melakukan strategic planning dengan loop-model GPRA ini. Berbagai pejabat penting telah saya dekati dan menanyakan mengapa Indonesia tidak menerapkan strategic planning-GPRA ini. Sebagian besar mengetahui tentang strategic planning, tapi tidak pernah dengar mengenai GPRA-Strategic Planning untuk pemerintahan. Yang mengetahui adanya GPRA-Strategic Planning hanya sedikit, walaupun tidak bisa menjawab mengapa tidak menerapkannya, kecuali Departemen Keuangan. Beberapa hari setelah munculnya artikel saya di Kompas(7) saya diundang oleh Departemen Keuangan (8 Des 2004) untuk menghadiri suatu pertemuan untuk kolumnis di seberang Lapangan Banteng, Jakarta. Dari pertemuan pendek itu dijelaskan bahwa Pemerintah telah mengeluarkan 3 undang-undang (# 25, #5, dan #17) dalam beberapa tahun ini. Informasi penting ialah bahwa Departemen Keuangan telah menerapkan cara baru yang lebih modern dibanding undang-undang akuntabilitas seperti GPRA. Dijelaskan bahwa Indonesia memilih mencontoh sistem Australia dengan menggunakan ‘Partisipasi Publik’ untuk governance. Karena itu merupakan hal baru untuk saya, saya tidak menanggapi pernyataan itu. Tetapi sepulangnya, saya mencari website Australian Government: ternyata ‘Participation of the Public’ merupakan suatu usaha konsultatif yang sangat intensif dengan masyarakat sampai ke rakyat jelata, sehingga misalnya tidak ada dollar yang dapat keluar untuk membuat suatu taman jika rakyat disekitarnya tidak menyetujuinya. Hal ini juga jelas terlihat di siaran ABC Televisi Australia dan Laporan mereka, dimana dapat terlihat apa sebenarnya artinya akuntabilitas; ia tidak saja berhubungan dengan uang, tapi juga dengan apa yang dilakukan pemerintah dan apa yang tidak dilakukannya, ataukah proyek dicapai atau tidak dicapainya. Hal ini disebabkan karena Australia sudah akuntabel sebelumnya, lebih akuntabel dibanding Amerika-pun. Sedangkan Indonesia masih harus belajar, sehingga jelas tidaklah mungkin Indonesia menerapkan sistem Australia itu. Barangkali hal itu sudah disadari Departemen Keuangan sekarang, karena saya temukan kemudian bahwa Panitia (suatu LSM?) yang menyelenggarakan pertemuan-pertemuan ini sudah bubar. Itulah cerita pendek mengenai bagaimana suatu sistem perlu dipilih dengan cermat sebelum menerapkannya. Juga mengawinkan dua sistem, seperti mengkombinasi sistem Amerika dengan sistem Eropah dan Inggris, seperti dilakukan oleh pendidikan menjadikan pelaksanaan menjadi kusut.Masalah PokokYakin atas kemampuan Strategic Planning menyebabkan saya menulis di Kompas sebuah artikel berjudul ‘Menciptakan Indonesia Akuntabel di Tahun 2015’(7) yang sudah lama saya pikirkan, tapi mengendalikan diri karena menilai belum waktunya untuk Indonesia menjadi akuntabel sebelum demokrasi sudah maju. Sekarang saya kira semua sudah lebih matang dan suasana politik lebih kondusif untuk (mulai) menerima akuntabilitas. Simak saja semua talkshow di televisi sudah menyinggungnya, dan banyak pembahasan telah mengusulkan untuk mencari kendaraan (sistem) untuk diberlakukan di Indonesia. Bagaimana mengimplementasikan yang mereka bicarakan di forum televisi selalu menjadi pertanyaan yang tak terjawab, seperti: bagaimana menciptakan manajemen risiko KA, bagaimana menghentikan lumpur panas, bagaimana mengurangkan kecelakaan di udara dan laut dan darat, bagaimana menguasai dampak air berlebihan seperti banjir, apakah kita harus memindahkan Jakarta sebagai ibukota, dsb.Tanpa membuka cerita panjang tentang kejadian menyolok yang menimpa negara kita bertubi-tubi mulai 1997, khususnya tahun 2006 dan permulaan tahun 2007 setiap hari terdapat berita utama di media tulis dan gambar. Kecuali gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran lempeng kerak bola dunia yang berbenturan, maka hampir semua masalah buruk, termasuk kecelakaan,dan korupsi dapat dituding letak dalam buruknya manajemen. Kompas (22 Jan 2007) menulis: ‘Manajemen Risiko KA Amburadul - Faktor Keselamatan Dikorbankan’; hal ini merupakan kata-kata kunci strategis untuk mencarikan jalan keluar pembenahan negara yang telah sakit kronis selama merdeka. Mis-management yang menyeluruh merupakan salah kaprah serius suatu governance sehinga merupakan strategic error Pemerintah yang memerlukan perbaikan. Bukan dengan analisa berulang2 dan mencari kesalahan, tapi dengan cara menciptakan suatu sistem yang dapat memberi jalan dan pegangan untuk good governance. Hingga sekarang kita baru coba memperbaiki beberapa sub-sistem dari manajemen yang strategis, misalnya: supremasi hukum dan masalah korupsi, transparansi, fungsi melayani, membangun arti konsensus, kesetaraan, meninggikan tanggung jawab, partisipasi publik, memfokus wawasan dengan visi dan misi institut, dsb. Banyak perbaikan telah terjadi, namun banyak pula yang salah arah, misalnya visi, misi suatu institut pemerintahan. Visi merupakan ‘mimpi’ (cita-cita luhur) yang harus bisa tercapai (attainable), sehingga mengatakan Visi Departemen Kesehatan ialah ‘Indonesia Sehat di Tahun 2010’ merupakan slogan dan bukan visi yang baik, karena tidak realistik. Kita bisa melihat kasat mata bahwa hal itu tidak mungkin bisa tercapai, apalagi tidak terdapat strategic planning(3) serta action plan, perencanaan dan alokasi biaya dari DepKes maupun negara. Bila akan dirunut pada proses strategic plan, maka kita tidak bisa menyambung misi ini dengan outcome yang tangible maupun yang intangible. Akuntabilitas merupakan fokus strategic planning yang utama(2). Akuntabilitas juga tidak bisa dilakukan bila tidak disertai keterbukaan dan undang-undang yang baikDalam hemat saya, semua masalah ini dapat dikemas lebih efisien dalam sistem seperti strategic planning yang lengkap versi GPRA atau sejenisnya. Undang-undang seperti ini perlu dibuat untuk dapat memberlakukan ‘perintah’ membuat proses strategic planning di tiap departemen dan institut pemerintah. ‘Komando’ seperti ini sering dianggap orang sebagai tidak sesuai dengan demokrasi dan kebebasan, biar semua melakukan sendiri apa yang (mereka) anggap baik. Rasanya, ini merupakan argumen yang tidak bijak, karena sebenarnya disini letak kepemimpinan atau leadership dari seorang Presiden yang mempunyai ‘vision’ (farsightedness). Karena dalam formulasi dan pelaksanaannya semua orang harus ikut melakukannya demi mencapai negara yang maju.Akuntabilitas dalam Undang-UndangPrinsip dasar pengelolaan keuangan negara ialah keterbukaan dan pemeriksaan keuangan harus dilakukan badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. Prinsip dasar lain ialah bahwa pemeriksaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban keuangan perlu di badan yang terpisah dan tidak dibawah satu kekuasaan. Namun, ketiga kekuasaan itu perlu saling bicara. Negara kita belum mempunyai suatu undang-undang Akuntabilitas yang holistik dan teruji di negara lain. Yang ada ialah:• UU Republik Indonesia Nomor17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara• UU Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara• UU Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara• Instruksi Presiden Republik Indonesia , Nomor 7 Tahun 1999 tentang: Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Presiden Republik IndonesiaBersama dengan upaya perbaikan sub-sistem (lihat atas), undang2 dan Instruksi Presiden di atas belum menghasilkan perbaikan yang berarti dalam good governance. Kiranya semua pihak mengakui hal tsb. Sebaliknya pihak swasta maju lebih pesat karena menerapkan sistem manajemen yang modern dan teruji keampuhan sistemnya di dunia. Bila kemajuan ini tidak diimbangi oleh kemajuan government performance, maka semua proses kemajuan negara akan terhambat. Di dalam bidang obat kita kenal pernyataan: ‘The industry is as good or as bad as the regulators’. Industri yang sehat harus tumbuh pertama untuk kebaikan klien (~ pasien) dan stakeholder maupun industri-nya sendiri, dan ini memerlukan balans yg baik melalui peraturan. Bila kita inginkan industri lebih terbuka, hal ini harus disertai keterbukaan governance secara resiprokal. Keterbukaan menimbulkan rasa percaya lebih besar dan seterusnya memupuk trust, yang sangat dibutuhkan negara kita dewasa ini untuk menarik investasi luar negeri. Sebagai lampiran, anda akan menemukan karangan pendek The New York Times (10) beberapa hari yang lalu yang ditulis seorang penting di Amerika Serikat yang mengisahkan kehilangan trust terhadap stock market di negaranya karena terjadi insider trading. Banyak cerita seperti ini terdapat juga di Indonesia. Yang menikmati globalisasi hanya sebagian kecil masyarakat, namun open market akan menghadapkan kita kepada saingan yang kejam. Sebagai negara yang tertinggal kita akan makin tertinggal. Karena itu sistem manajemen Indonesia harus berubah dan good governance ialah yang paling membutuhkan keterbukaan dan akuntabilitas. Suatu undang2 akuntabilitas seperti diundangkan Amerika Serikat dan disebut Government Performance and Result Act (1993) merupakan contoh nyata yang berhasil mengubah negara menjadi lebih akuntabel melalui proses Strategic Planning yang dilakukan untuk semua institut pemerintahnya. Strategic Plan dapat didownload dari semua Departemen dan Institut Pemerintah dari ‘semua’ pemerintahan sejak lebih dari 15 tahun terakhir. Hal ini diikuti seluruh dunia maju dan dalam semua bahasa. Sayangnya jarang ditemukan strategic plan institut non-bisnis atau pemerintah yang hidup dan terurus rapi melalui search engine di Indonesia dalam model yang akuntabel.Suatu Instruksi Presiden(3) telah diterbitkan oleh Presiden Habibie di tahun 1999 yang dikenal dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia , Nomor 7 Tahun 1999 tentang: Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang dikenal dengan ‘RENSTRA’. Rupanya Instruksi Presiden ini didasarkan pada GPRA, namun tidak identik. Beberapa departemen seperti Departemen Pendidikan, telah membuat Renstra beserta Juklaknya, namun menurut saya tidak mengikuti proses strategig planning yang lengkap. Instruksi Presiden ini barangkali dapat diperbaiki sehingga menjadi lebih sempurna dan kuat kedudukannya sebagai undang-undang. Juga Model Strategic Planning perlu dibuat dengan menggunakan subsistem yang lebih baru seperti Balanced Scorecard (BSC)yang di Indonesia sudah populer. Balanced Scorecard perlu di-inkorporasi dalam proses Strategic Planning karena Misi, Visi dan, objektif serta Action Plans perlu dirunut kedalam proses pelaksanaan ini. BSC merupakan alat untuk mengusahakan supaya goals yang dibuat bisa diikuti hingga ke pelaksanaan terbawah dari organisasi. Karena itu BSC tidak bisa berdiri sendiri tanpa terbuat proses strategic planning.Melaksanakan undang-undang akuntabilitas dengan strategic planning bukan hal mudah. Namun tanpa rencana menyeluruh ini kiranya kita tidak mempunyai pegangan hidup, juga untuk generasi seterusnya. Visi dan misi kita juga perlu ditetapkan dengan gol yang dapat dicapai dalam jangka panjang dan terbagi dalam jangka 5 tahun dan tahunan. Mungkin akuntabilitas baru dapat dicapai –andaikan- dalam 15 tahun, namun bila kita tidak mulai merencanakan sekarang dengan lebih nyata, sulit akan diharapkan kemajuan bangsa. Kita mau maju, namun negara lain sudah dan akan lebih maju, sehingga perlu mengejarnya. Sementara itu, sekarang, proses GPRA di Amerika Serikat sudah melejit dan terus memperbaiki akuntabilitas dalam membuat outcome measures yang sangat detail dalam penerapan strategic planning di segala bidang. Globalisasi juga menghendaki keterbukaan dan akuntabilitas yang besar dalam segala faset kehidupan kita.

Dasar Web Design

Jika anda sudah lama menjelajahi Web, hampir bisa dipastikan anda pasti pernah dong , ketemu web site yang didesign dengan jelek, terutama karena hampir semua orang , jika mereka mau dapat membuat web site , sesuai dengan design HTML pada umumnya. Tidak heran jika banyak web site yang membingungkan, overwhelming, jelek, atau sangat lamba-a-at dipanggil. Tetapi untuk menjadikannya sebuah title profesi , web designer, apalagi webmaster :) jelas tidak segampang itu, anda harus belajar lebih dulu apa itu dasar web design.
Dan sekali lagi , itu tidak mudahTapi mengikuti beberapa teori yang mendasari Web Design, yang dibuat oleh para pelopor, mereka yang telah terlebih dahulu berkiprah ,di bidang Web Design , akan dapat membantu anda, jika anda masih mau belajar tentunya :)Mendesign untuk Web membuka daerah kemungkinan yang serba baru , dan pada saat yang sama. Web Design juga lahir dari serangkaian batasan-batasan yang diciptakan oleh dunia Web itu sendiri.Salah satu bedanya aja nih .. saat anda mendesign untuk Web, apa yang anda kerjakan tidak pernah dianggap selesai. sisi positifnya , Anda selalu dapat menambahkan , mengkoreksi , meredesign , menyempurnakan hasil karya ( dalam bentuk Web Site tentunya ) anda. simplenya UPDATE! adalah salah satu kelebihan media Web , Sisi Negatifnya, tentu saja lebih banyak kerja , lebih banyak pikiran dan klien yang belum tentu mengerti Sisi Positif dan Negatif dari Web , jelas akan mempersulit anda.
Kembali ke rangkaian batasan Web (limitations of the Web), Lance Arthur dari Glassdog, dalam artikelnya di site tersebut punya teori sbb:
" Web Design originates from a field of limitations ... Seeing this as a challenge to be overcome instead of a wall of invulnerability may sound like one of those motivational posters that middle managers rely upon, but it applies. The demons that plague you once you've settled on the One True Design for your project, whatever it may be, mean you must create perfection... then set about destroying it while attempting to hold onto the best parts of what you've created .. "
Dan inilah daftar (panjang), batasan-batasan tersebut :
PLATFORMISSUE
Komputer Mac. menampilkan huruf lebih kecil dari komputer PC.
PC mempunyai font default yang berbeda dari Mac.
Unix( dan clone-nya) tidak mempunyai font default.
Macs menampilkan warna "washed out",
PC menampilkan warna "super saturated". dan seterusnya.
BROWSERISSUE
Netscape mempunyai JavaScript, jadi Microsoft selalu satu langkah di belakang.
Microsoft mempunyai JScript dan VBScript dan ActiveX, yang tidak berjalan di Netscape.
Tidak ada yang memiliki Java.
Plug-in masih diperlukan untuk beberapa Functionality , misalnya Flash.
Netscape memasukkan pixel spacing dengan acak dalam cell tabel, frame dan document. Microsoft tidak.
Microsoft tidak mengharuskan tag penutup untuk kebanyakan tag HTML ( browser pemaaf ). Netscape mengharuskannnya.
Masalah CSS ( Cascading Style Sheets) yang masih berbeda di beberapa penerapannya oleh Microsoft dan Netscape,
Microsoft menambahkan CSS filters. Netscape menambahkan JavaScript CSS.
dan itu baru dua browser dari sekian browser yang ada.
USER ISSUE
Users dapat dengan acak memilih resolusi layar dan kedalaman warna. Anda tidak dapat menjamin warna apa yang akan tampil di layar semua user anda.
Users dapat mematikan dukungan Java dan JavaScript. Anda tidak dapat menjamin efek halaman HTML berdasarkan fungsi- fungsi ini akan tampil , walaupun di browser yang mendukungnya.
Beberapa user menolak mengunjungi site dengan Frame. User yang lain menggunakan browser yang tidak mendukung frame , atau tidak mendukung image , dan lain-lain.
ACCESSIBILITYISSUE
User yang buta tidak dapat melihat halaman HTML anda, serius .. inilah masalah Accesibility. dan 'screen reader' yang membacakan kepada mereka adalah satu-satunya solusi.
Screen Reader tidak dapat menegosiasikan frame.
Screen Reader tidak dapat melihat image yang berisi teks, kecuali anda mencantumkannya di dalam tag ALT.
Screen Reader dapat menguatkan kata-kata dengan tag , tapi tidak dalam tag .
Lynx users juga tidak dapat melihat image.
Lynx User dapat menjelajahi frame, tapi mereka tidak dapat mengetahui isi nya sampai mereka masuk ke dalamnya (frame tersebut).
User yang lebih tua mungkin memerlukan ukuran font yang lebih besar untuk membaca halaman HTML anda, yang sangat potensial untuk merusak skema lay-out yang telah anda bikin susah-susah.
Beberapa printers mencoba mencetak huruf putih tapi tidak dapat mencetak background gelap. Dan seterusnya.
Panjang kan ?Masih menurut Lance Arthur, batasan -batasan baru ini terus bertambah dan karena beberapa sebab , batasan-batasan lama tetap ada. Meninggalkan tiga pilihan untuk Web Designer
Memperhitungkan masalah-masalah tersebut di atas, membuat multiple version ( beberapa versi ) dari Web Site anda untuk Platform , Browser, dan Audience yang berbeda.
Menerima (baca: Menyerah) bahwa anda tidak akan dapat mentargetkan audience seluas-luasnya untuk menikmati site anda dan membuat perubahan yang mengijinkan akses , minimal untuk contents , misal dengan versi text-only.
Melakukan Apa yang anda mau, tanpa kompromi, mengalienasikan beberapa bagian audience anda.
Jadi ?Menurut Lance Arthur, bertemanlah dengan batasan-batasn Web tadi. dan menurut beliau lagi, Web Design adalah bisnis yang bikin frustasi , sehingga wajar kalo mereka yang pusing memikirkan hal-hal diatas dibayar mahal.
Tingkat kesuksesan seorang Web Designer juga bergantung pada seberapa besar dana, kepercayaan dan kerjasama yang diberikan klien. Anda harus menetapkan di awal proyek Web Design anda : Siapa Target Audience-nya, Apa Kegunaan Site tersebut, dan kemudian meyakinkan klien untuk meninggalkan anda sendiri sampai anda mempunyai sesuatu untuk dipresentasikan.
Ada Teori laen yang lebih mudah ?Menyerah sudah ? jangan dulu ... ada kok Teori laen , yang (kedengarannya) lebih mudah .. dari Jason Kotke , dari osil8, menurut beliau ..
Web design adalah design informasi (information design) sebuah jalan mengkomunikasikan informasi kepada audience anda.
Information Design , kedengaran seperti serious stuff ? memang benar! , Orang-orang telah mendesign Informasi bertahun- tahun , bahkan sebelum Web datang , dan mereka akan terus melakukannya bahkan setelah Web tidak ada lagi ( dan itu masih lama sekali , kalaupun hal itu terjadi :)
Beberapa orang bilang bahwa Web adalah media yang benar-benar baru, dan karenannya memerlukan pendekatan yang baru juga. Pada dasarnya, Web adalah tentang Komunikasi , anda ingin orang melihat teks, contents, seni anda. dan Komunikasi ( yang efektif ) memerlukan Perencanaan.
Demikian menurut beliau , Jason Kotke dari otil8.
Sekian dulu Dasar Web Design bagian pertama dari toekangweb, semoga bermanfaat bagi anda, dan nantikan di edisi berikutnya dari toekangweb , lanjutan dari artikel ini , Elemen-elemen dari Web Design ... dan Langkah-langkah dalam Web Design menurut Jason Kotke dan Lance Arthur.

Sejarah PHP

PHP pertama kali dibuat oleh Rasmus Lerdroft, seorang programmer C. Semula PHP digunakannya untuk menghitung jumlah pengunjung di dalam webnya. Kemudian ia mengeluarkan Personal Home Page Tools versi 1.0 secara gratis. Versi ini pertama kali keluar pada tahun 1995. Isinya adalah sekumpulan script PERL yang dibuatnya untuk membuat halaman webnya menjadi dinamis. Kemudian pada tahun1996 ia mengeluarkan PHP versi 2.0 yang kemampuannya telah mampu mengakses database dan dapat terintegrasi dengan HTML. Pada tahun 1998 tepatnya pada tanggal 6 Juni 1998 keluarlah PHP versi 3.0 yang dikeluarkan oleh Rasmus sendiri bersama kelompok pengembang softwarenya..

Tahun 1995 dianggap sebagai tahun kelahiran dari PHP /FI yang kemudian membuat pertumbuhan aplikasi web yang pesat, dan banyak orang kemudian berkontribusi mengembangkan PHP/FI. Sulit untuk mendapatkan statistik yang tepat untuk memperkirakan penggunakan PHP/FI,tetapi diperkirakan pada akhir 1996 telah digunakan oleh sedikitnya 15000 Website diseluruh didunia. Dan pertengahan 1997 mencapai 50000 situs.

Pada pertengahan 1997 juga terjadi perubahan pengembangan PHP. Pengembangan dilakukan oleh tim yang terorganisasi bukan oleh Rasmus sendiri saja lagi. Parser dikembangkan oleh Zeev Suraski dan Andi Gutsmans yang kemudian menjadi dasar untuk versi 3, dan banyak utilitas tambahan yang diprogram untuk menambah kemampuan dari versi 2. Versi terbaru yaitu PHP 4.0 keluar pada tanggal 22 Mei 2000 merupakan versi yang lebih lengkap lagi dibandingkan dengan versi sebelumnya. Perubahan yang paling mendasar pada PHP 4.0 adalah terintegrasinya Zend Engine yang dibuat oleh Zend Suraski dan Andi Gutmans yang merupakan penyempurnaan dari PHP3 scripting engine. Yang lainnya adalah build in HTTP session, tidak lagi menggunakan library tambahan seperti pada PHP3.

Tujuan dari bahasa scripting ini adalah untuk membuat aplikasi-aplikasi yang dijalankan di atas teknologi web. Sejak januari 2001 PHP3 dan PHP4 disertakan pada sejumlah produk server web komersial seperti server web StrongHold Redhat. Perkiraan konservatip yang didapat dari angka yang diberikan oleh Netcraft yang diekstrapolasi, pengguna PHP sekitar 5.100.000 sedikit lebih banyak dari server web yang menggunakan Microsoft IIS di internet.

Tentang Custom Style Sheet (CSS)

Bagi yang belum pernah mendengan css dalam dunia HTML maka anda akan sangat kehilangan penghematan dalam besarnya file dokumen HTML anda. CSS itu sendiri bekerja menjadi pelengkap pada HTML. Jadi jika anda adalah pendatang baru dalam mempelajari HTML, maka cobalah untuk belajar CSS. Dengan menggunakan CSS ini para web developer dapat memisahkan HTML dari aturan-aturan untuk membentuk tampilan sebuah website sehingga CSS ini dirasa sangat powerfull. Namun memang banyak juga orang yang belajar HTML, tikda begitu menganggap CSS ini sangat penting peranannya padahal kekuatan dan fleksibilitas dari sebuah css sangat tangguh.
So, what exaclty you talking about it, girl…. (meski udah gak girl lagi)
CSS (Cascading Style Sheet) bertugas untuk menetapkan aturan tampilan/style yang akan digunakan pada sebuah website sehingga CSS berperan sebagai pelengkap file HTMl. Jadi meski tikda ada CSS website tetap bisa dibuat, but without CSS, not cool man….


CSS diperkenalkan untuk pengembangan website pada tahun 1996. Nama CSS didapat dari fakta bahwa setiap deklarasi style yang berbeda dapat diletakkan secara berurutan, yang kemudian akan membentuk hubungan parent-child pada setiap style.
Setelah CSS distandarisasikan, Internet Explorer dan Netscape melepas browser terbaru mereka yang telah sesuai atau paling tidak hampir mendekati dengan standar CSS.
CSS adalah sebuah dokumen yang berdiri sendiri dan dapat dimasukkan dalam kode HTML atau sekedar mejadi rujukan oleh HTML dalam pendefinisian style. CSS menggunakan kode2 yang tersusun untuk menetapkan style pda elemen HTML atau dapat juga digunakan membuat style baru yang biasa disebut class.
CSS dapat mengubah besar kecilnya text, mengganti warna background pada sebuah halaman, atau dapat pula mengubah warna border pada tabel, dan masih banyak lagi hal yang dapat dilakukan oleh CSS. Singkatnya, CSS digunakan untuk mengatur susunan tampilan pada halaman HTML.
CSS dapat digunakan untuk menggantikan "span", "b", "u" dan "u", dikarenakan hal berikut:sebuah file css dapat menjadi rujukan banyak halaman HTML. Hanya dibutuhkan 1 baris kode untuk melakukan hal tersebut. Ini berarti akan meminimalkan file2 HTML yang akan dibuat.Jika ingin mengubah tampilan website yang telah dibuat, maka yang perlu dilakukan hanya mengganti baris-baris kode pada css nya saja, tanpa perlu mengutak-atik file-file HTML nya.CSS dapat mengatur banyak atribut pada sebuah halaman secara mudah. Misalnya: warna background, border, shadow, yang berbeda pada masing-masing tag yang digunakan.

Persiapan sebelum membuat website atau menyewa jasa web designer atau web developer studio.

Ketika anda mendapatkan seorang web desainer yang memiliki skill yang mampu merubah sebuah lembar solid menjadi sebuah visual desain yang powerful, desain yang mengejutkan, ampuh, dan mampu menyampaikan informasi kepada customer anda semua hal tersebut bisa terjadi jika anda sebagai institusi, perusahaan (personal/lembaga) memberikan petunjuk, panduan, informasi pendukung tentang detail profile, brand personality dan cara unik penyampaian pesan. Timeline sebuah project desain website / proses development sangat dipengaruhi oleh kesiapan dari anda sebagai client dari seorang web desainer atau studio desain website. Berikut beberapa hal yang anda dapat persiapkan sebelum anda mulai mencari seorang/studio web desain :
1. Visual Language Guidelines.
Sebuah dokumen yang berisi informasi profile perusahaan secara visual. Dokumen ini bisa saja diabaikan bila ada sesi diskusi antara anda dan desainer anda yang secara aktif mengumpulkan informasi-informasi berikut...
1.a. Nama/BrandJelaskan secara singkat filosofi atau arti kenapa anda memilih nama/brand tersebut, atau anda dapat menjelaskan sedikit sejarah tentang bagaimana awal berdirinya perusahaan anda.
1.b. LogoJelaskan arti dari logo perusahaan anda, pemilihan bentuk atau font character yang mewakili identitas perusahaan anda. Sebaiknya sertakan juga logo dalam bentuk file vektor sehingga ketika dalam proses desain Logo dapat diolah disesuaikan dengan ukuran penggunaannya sebagai komponen pendukung desain.
1.c. WarnaInformasi penggunaan warna, informasikan warna dalam bentuk RGB (R:255 G:255 B:255) atau Hexadecimal (#FFFFFF). Warna meliputi warna logo, text, background atau warna theme dominan.1.d. TypografiPenjelasan tentang penggunaan jenis font baik sebagai komponen dari logo atau penggunaannya dalam tag/quote/slogan.1.e. PhotographyBila identitas juga mengandung Photo sebagai bentuk visual sertakan file photo dengan resolusi tinggi minimal berukuran 1024 X 768.1.f. Informasi tambahan (bila perlu/ada)Informasi proposional, ukuran & penempatan, marque dll.
Kalau anda belum memilikinya, berencanalah secara serius untuk membuatnya, karena profesionalisme perusahaan anda akan terbentuk sejalan dengan kelengkapannya. Gunakan jasa graphic designer yang mengerti betul dengan hal-hal diatas, atau anda uraikan kebutuhan anda kepada graphic designer anda.
2. Struktur Content/Materi Website
Dukumen ini nantinya akan diterjemahkan oleh web developer anda sebagai sitemap yang nantinya akan mendukung mereka dalam menyusun wireframe/blueprint atau kerangka dari website yang menunjukan bagaimana susunan navigasi, fungsi dan elemen materi yang akan ditampilkan di dalam website nantinya. Contoh :
-Homepage
- welcome text
- new product listing
- login form
- newsletter form
- Category listing About Us
- History
- Philosophi
- Staff
- LocationProducts
- Category
-- Chair
-- Table
-- Bed
-- Sofa
-- Kithen Set
- Supplyer
- BrandsTerm & Conditions
- Order
- Payment
- Product Return
- Reseler Info
- FAQTestimonial
- Company
- Personal Register
- Form
-- Succed Registration Contact
- Addreses
- Contact Form
Struktur diatas bisa anda buat dalam bentuk dokumen spread sheet (ms excel), file dukumen yang terstruktur seperti sebuah daftar isi sebuah buku. Mintalah feedback/masukan dari web site designer/developer anda untuk komposisi struktur yang ideal.

3. Content/Materi
Content/materi adalah hal yang paling crucial. Berdasarkan pengalaman kebanyakan seorang calon client sangat menggebu-gebu ketika menceritakan keinginannya untuk membuat website, tapi ketika saatnya developer/designer menanyakan tentang materi/contentnya sudah ada dan siap sesuai dengan rencana struktur website calon client akan lemas dan mulai berpikir "Oh ya, belum ada" atau dengan seenaknya berkata "Yah cari-cari aja di Internet perusahaan sejenis edit-edit sedikit kata-katanya". SALAH BESAR™!
3.a. Designer bukanlah Copyriter, tidak ada yang lebih tahu perusahaan anda selain anda sendiri, bagaimana mungkin anda menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada orang yang tidak memiliki kemampuan maksimal di bidang copyriter. Gunakanlah jasa copyriter atau anda susun sendiri profile perusahaan anda sehingga tidak ada kekukarngan atau salah penyampaian informasi. Mulailah dengan berpikir bahwa anda jauh lebih baik dari kompetitor anda.
3.b. Copy paste content materi adalah ilegal dan tidak search engine friendly.Selain ilegal melakukan copy-paste content/materi juga kesalahan besar ketika berurusan dengan search engine. Search engine dengan mudah mengenali sebuah kalimat yang sama persis dalam sebuah artikel atau tulisan maka dengan sendirinya search engine akan menurunkan peringkat website pengcopy dalam pencarian.
3.c. Serahkan gambar/photo original yang hak cipta/guna anda miliki untuk menghindari masalah dikemudian hari atau gunakan photo/images yang anda dapatkan di internet hanya sebagai inspirasi untuk sebuah artwork yang baru.

4. Satu orang contact person sebagai pemegang keputusan atas proses pembuatan website.
Tunjuk satu orang atau tetapkan bahwa anda sendirilah yang menjadi contact person dalam melakukan proses colaburasi dalam pembuatan website dengan web designer/studio nantinya utnuk menghindari kerancuan dalam menentukan keputusan. Katakanlah dalam perusahaan pemegang keputusan adalah forum/board hal ini tidak menjadi masalah, misalkan saat memutuskan memilih moke-up design yang di ajukan oleh designer anda dapat mendiskusikannya di forum, mencatat semua masukan dan memutuskan hanya satu kesepakatan kepada designer. Jadi tidak ada second opinion dari anggota forum/board yang langsung menghubungi designer, membingungkan.

Menggunakan fitur animasi di website dengan tepat

Saat ini animasi di website bukanlah hal aneh lagi. Semenjak pertama kali animasi populer dengan format animasi gif, sampai dengan format animasi lain yang berkembang. Animasi flash yg dikembangkan oleh Macromedia adalah salah satu yang populer utk menyajikan visualiasi animasi dan multimedia karena fiturnya yang lengkap, mulai dari animasi sederhana sampai aplikasi interaktif berupa game dan aplikasi komplek mampu dihasilkan oleh teknologi flash. Tapi tahukan anda dengan menggunakan nya secara sembarangan dan tidak tepat justru akan membuat website anda akan kehilangan visitor, dan pada akhirnya kehilangan tujuan untuk apa website anda dibuat.
Animasi atau fitur multimedia yang diletakkan di website anda seharusnya bertujuan tidak lebih dari untuk menyajikan informasi yang lebih detail kepada pengunjung situs anda, tidak lebih dari itu. Sebagai contoh, jika anda menjual mobil di website, anda bisa menambahkan tampilan animasi 3D struktur mobil yang anda jual. Dengan demikian pengunjung website dapat lebih melihat secara detail eksterior dan interior dari mobil yang anda jual secara tiga dimensi. Contoh lain, sebuah group band yang ingin menampilkan preview lagu-lagu dari album yang akan mereka rilis. Dengan demikian para fans dari band tersebut dapat sedikit menerka bagaimana isi dari album yang akan mereka rilis.
Dari contoh sederhana diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa animasi bertujuan utk memperkaya informasi yag berguna bagi pengunjung website kita, dan bukan sekedar menarik perhatian, sekedar trend karena website kompetitor menggunakan animasi, dan sebagainya. Animasi di website seharusnya dilihat sebagai bagian dari sebuah content yang menyatu dan memberikan manfaat bagi pengunjung bukannya justru membuat pengunjung utk malas melihat website anda.

Apa itu Web Desain

Apa itu Web Desain
June 1st 2006, on Karir
Lagi-lagi berawal dari email masukan Anda, beberapa email yang masuk ke mailbox saya mengeluhkan kalau ia adalah pendatang baru dalam dunia desain Web, ketika ia membaca artikel di desain Web hanya beberapa artikel saja yang ia mengerti. Email yang lain, mengatakan bahwa ia sangat ingin menjadi desainer Web, namun apa yang harus ia pelajari untuk menjadi apa yang ia inginkan.Kolom ini dibuat untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar profesi desain Web dan sebagai tuntunan bagi para pendatang baru agar dapat secara jelas memahami cakupan kerja desainer Web.
Untuk bahasan pertama, kita akan membahas apa itu Web desain. Silakan lihat beberapa definisi yang terdapat pada beberapa glossary di Internet yang mendeskripsikan apa itu desain Web:
?Web Design is the art and process of creating a single Web page or entire Web sites and may involve both the aesthetics and the mechanics of a Web site’s operation although primarily it focuses on the look and feel of the Web site. Some of the aspects that may be included in Web design or Web production are graphics and animation creation, color selection, font selection, navigation design, content creation, HTML/XML authoring, JavaScript programming, and ecommerce development. Web design is a form of electronic publishing.? - http://desktoppub.about.com/cs/basic/g/webdesign.htm
Tugas seorang desainer Web secara umum adalah menentukan ?look and feel? dari sebuah situs Web. Secara langsung atau tidak, kita harus menguasai dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan tampilan dari sebuah situs Web. Seorang desainer Web harus pula memahami penerapan aspek-aspek yang terdapat di dalam desain Web, walaupuan tidak menguasai. Seperti halnya Java Script, kita tidak wajib mengetahui dan mampu membuat Java Script sendiri untuk kebutuhan desain, namun bagaimana dan estetika penerapan Java Script pada desain akan sangat menguntungkan bila kita memahaminya.
Dalam membuat Web, seorang desainer Web menentukan aspek-aspek desain yang diperlukan seperti pemilihan Font, warna, tataletak, dan lainnya. Tugas seorang desainer Web tidaklah semudah yang dibayangkan, penguasaan software-software grafis dan animasi dan HTML authoring saja tidak cukup untuk membuat situs Web yang baik. Banyak hal yang harus menjadi pertimbangan, terlebih bila dihadapkan dengan keinginan Klien, kita akan dihadapkan dengan kepuasan klien. Terkadang idealisme kita sebagai desainer Web akan kalah dengan idealisme klien. Ha..ha.. itu hal yang wajar bukan.

Analisis, Perancangan, Dan Implementasi E-Learning Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Berbasis Web

Sebagai perguruan tinggi, STIS terikat pada Tri Darma dan tujuan umum perguruan tinggi. Di dalam Tri Darma tercantum bahwa perguruan tinggi merupakan penyelenggara pendidikan tinggi yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian pada masyarakat. Sedangkan dalam tujuan umum, perguruan tinggi harus mampu menyiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan pendidikan tinggi. Konsekuensi dari itu semua maka STIS harus mampu meningkatkan pendidikan yang diselenggarakannya dan harus mampu memberikan pengabdian pada masyarakat yang bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan gratis pada masyarakat berupa penyebaran artikel, makalah, maupun materi-materi ilmu pengetahuan lainnya. Untuk meningkatkan pendidikan dan mempermudah dalam pengabdian masyarakat seperti di atas maka salah satu caranya bisa dicapai dengan penyelenggaraan pendidikan secara online yang lebih sering disebut dengan e-learning. E-learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan fasilitas internet sebagai media penyampainya. Salah satu bentuk e-learning yang banyak digunakan adalah e-learning berbasiskan web. E-learning dalam bentuk ini memungkinkan terjadinya proses pendidikan tanpa melalui tatap muka langsung. Dengan sistem ini pula, penyebaran ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas bisa dilakukan dengan mudah. Untuk memperoleh e-learning yang tepat maka proses pembangunan e-learning STIS dibagi kedalam tahap analisis, perancangan, implementasi, uji coba, dan evaluasi. Dalam tahap analisis digunakan alat bantu Diagram Arus Data (DAD) dan diagram dekomposisi untuk menggambarkan proses-proses yang ada. Sedangkan untuk merancang basis data digunakan alat bantu Entity Relationship Diagram (ERD). Dalam implementasi digunakan PHP 5, HTML, dan Java Script sebagai bahasa pemograman, Apache sebagai Web Server, dan PostgreSQL 8.0.0 sebagai Database Server. Dalam pembangunan aplikasinya digunakan perangkat lunak Adobe Photoshop CS untuk membuat rancangan tema, Macromedia Dreamweaver MX 2004 dan PHP Editor untuk merancang antarmuka dan menulis kode program, dan PgAdmin III sebagai antarmuka pembuatan basis data. Dari implementasi e-learning ini setidaknya dapat memfasilitasi terjadinya perkuliahan secara online, memperlancar komunikasi, serta memberikan kemudahan dalam penyebaran ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas. Dengan kelebihan e-learning di atas maka disarankan untuk segera menerapkan aplikasi ini baik dalam jaringan lokal maupun internet untuk melengkapi sistem pendidikan di STIS yang ada sekarang.

Pengertian e-Learning

Banyak pakar yang menguraikan definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Definisi yang sering digunakan banyak pihak adalah sebagai berikut.a. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001].b. E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone [LearnFrame.Com, 2001].c. E-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalamnya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Juga penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-ROM atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, e-mail, blogs, wikis, computer aided assessment, animasi pendidkan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, electronic voting systems, dan lain-lain. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda [Thomas Toth, 2003; Athabasca University, Wikipedia].Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-learning. Keuntungan menggunakan e-learning diantaranya :• menghemat waktu proses belajar mengajar,• mengurangi biaya perjalanan,• menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku),• menjangkau wilayah geografis yang lebih luas,• melatih pelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Untuk menyampaikan pembelajaran, e-learning selalu diidentikkan dengan penggunaan internet. Namun sebenarnya media penyampaian sangat beragam dari internet, intranet, cd, dvd, mp3, PDA, dan lain-lain. Penggunaan teknologi internet pada e-learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa lembaga pendidikan dan perusahaan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah.

Virtual Learning Environment

Virtual Learning Environment (VLE) adalah sistem perangkat lunak yang didukung dengan perangkat keras, yang didesain untuk memfasilitasi pengajar melakukan manajemen terhadap perkuliahan yang diberikan kepada peserta ajar, khususnya membantu dalam administrasi course. Sistem tersebut dapat mencatat kemajuan (progress) proses belajar, dimana dapat dipantau baik oleh pengajar maupun peserta ajar. Selain utamanya digunakan untuk proses pendidikan jarak jauh (distance education), sistem tersebut juga dapat digunakan sebagai tambahan atau penunjang dalam kelas tatap muka.
Sistem VLE ini biasanya berjalan pada server, menggunakan satu atau lebih database dan programming, misalnya Java/J2EE atau bahasa scripting seperti PHP untuk melayani course bagi peserta ajar melalui halaman web (internet).
Secara sederhana komponen dari sistem VLE akan terdiri dari template untuk halaman konten, forum diskusi, chat, online kuis dan latihan soal seperti multiple-choice, benar/salah atau jawaban satu kata (one-word-answer). Fitur baru yang ditambahkan adalah seperti blog dan RSS. Layanan yang disediakan adalah access-control, kelengkapan konten e-learning, tool komunikasi dan administrasi dari grup pengguna.
Sistem VLE harus memudahkan seorang perancang course (misalnya dosen) untuk dapat menyampaikan kepada peserta ajar, semua komponen yang dibutuhkan untuk course tersebut, melalui sebuah tampilan tunggal yang konsisten dan intuitif. Sebuah sistem VLE dalam implementasinya harus memiliki komponen sebagai berikut:
Silabus dari course
Informasi administratif termasuk lokasi kelas (session), detail dari pre-requisites dan co-requisites
Sebuah papan pengumuman (noticeboard) yang dapat di-up-to-date mengenai informasi course
Registrasi mahasiswa dan fasilitas tracking, termasuk option pembayaran
Materi bahan ajar lengkap dalam berbagai format file atau multimedia yang dapat diakses secara penuh oleh peserta ajar
Materi tambahan lainnya, termasuk materi bacaan (reading materials) dan link ke resource luar seperti ke perpustakaan digital atau ke internet.
Self assessment quizz yang melakukan penilaian secara otomatis.
Prosedur assessment formal
Komunikasi elektronik seperti e-mail, threaded discussion dan chat room, dengan atau tanpa moderator.
Hak akses yang berbeda bagi instruktur dan siswa
Produksi dokumentasi dan statistik dari course dalam format yang dibutuhkan untuk administrasi institusi dan quality control.
Semua fasilitas dapat terkoneksi dengan hyperlink.
Alat bantu authoring yang mudah untuk membuat dokumen yang dibutuhkan - termasuk menambahkan hyperlink.
Dapat menggunakan word processor standar maupun perangkat lunak office lainnya untuk authoring.

DUKUNGAN INDUSTRI SOFTWARE DALAM IMPLEMENTASI E-LEARNING DI DUNIA PENDIDIKAN

I. Perlukah E-Learning ?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut berikut ini sepotong berita yang cukup menarik untuk disimak :
detikInet – detik.com , Selasa , 01/11/2005 15:59 WIB
Cisco ‘Larang’ Karyawannya Ngantor
Dampak kenaikan BBM sudah mulai dirasakan oleh kalangan usaha. Tak terkecuali perusahaan perangkat network skala dunia Cisco Systems. Menurut Managing Director Cisco Systems Indonesia, dampak dari BBM sudah mulai terasa pada beberapa perusahaan TI, oleh sebab itu karyawan Cisco Indonesia dilarang untuk ke kantor kalau tidak terlalu perlu. Cisco lebih menganjurkan karyawannya bekerja dari rumah atau pun tempat yang terhubung dengan koneksi internet nirkabel (WiFi), dengan memanfaatkan fitur jaringan virtual VPN (virtual private network-red) yang dimiliki oleh Cisco. Karyawan diharapkan memanfaatkan segala kegunaan internet untuk mengakali naiknya BBM. Dengan gerakan seperti itu, efektifitas dan produktifitas tetap terjaga tanpa perlu mengeluarkan extra cost untuk biaya operasional perjalanan.
Cuplikan reportase di atas sangatlah menarik untuk disimak karena dapat menjadi gambaran kenyataan akan dampak kenaikan harga BBM yang mengakibatkan kenaikan biaya operasional di berbagai sekotor salah satunya di sektor bisnis. Tetapi yang tak kalah menariknya adalah semangat dan kebijakan “efisiensi” yang diambil oleh para pelaku bisnis, contohnya di atas adalah Cisco System corp. yang merupakan vendor perangkat jaringan terbesar di dunia, dalam memangkas biaya operasional dan transportasi para pegawainya. Efisiensi yang dilakukan didukung dengan pemanfaatan teknologi komputer dan komunikasi yang memungkinkan para pegawainya melakukan dan menylesaikan pekerjaan kantor dari tempat di mana dia berada. Kehadiran di kantor menjadi bukan kewajiban lagi. Ini merupakan fenomena yang menarik. Sebenarnya fenomena ini telah dipikirkan oleh para pakar dan peneliti di bidang IT beberapa tahun yang lalu, sehingga mereka mengembangkan teknologi-teknologi baru seputar bidang networking dan remote access. Saat ini berubah, karena biaya transportasi demikian melambung, maka teknologi tersebut menjadi sangat dibutuhkan dan manfaatnya sangat dirasakan.
Bagaimana dengan bidang pendidikan ?. Seharusnya tidak berbeda. Biaya transportasi di samping biaya-biaya operasional lain yang harus ditanggung para mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan akan semakin berat. Biaya transportasi dari tempat tinggal ke tempat perkuliahan, ke tempat praktikum/lab, menemui dosen pengajar, mengikuti seminar, dll akan menjadi kendala yang sangat serius bagi para mahasiswa saat ini. Terlebih apabila tempat-tempat pembelajaran berada di lokasi yang relatif jauh atau mungkin di kota lain.
Untuk itu salah satu solusi yang harus semakin dimanfaatkan secara optimal adalah“E-Learning”. Implementasi e-learning untuk beberapa model perkuliahan akan mampu memangkas biaya overhead pembelajar khususnya komponen biaya transportasi dan biaya akomodasi. Dengan e-learning, materi perkuliahan dapat didistribusikan baik secara on-line menggunakan koneksi jaringan maupun off-line menggunakan movable-media. Konsultasi, test/ujian dapat dilaksanakan/diikuti secara on-line dari tempat tinggal atau tempat terdekat dengan bantukan komunikasi jaringan internet /intranet. Bagi penyelenggara pendidikanpun banyak efisiensi dapat diperoleh dengan menggabungkan pola pembelajaran konvensional dan e-learning.
Dengan kenyataan seperti di atas maka rasanya saat ini tidak ada alasan lagi untuk menunda implementasi e-learning di bidang pendidikan khususnya di perguruan tinggi, apalagi menganggap teknologi tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu dan mengada-ada.II. Apa E-learning itu ?
Sekilas perlu kita pahami ulang apa e-learning itu sebenarnya. E-learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-learning sebagai berikut :
· Pembelajaran jarak jauh.
E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.
Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
· Pembelajaran dengan perangkat komputer.
E-learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
· Pembelajaran formal vs. informal.
E-learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-learning untuk umum. E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
· Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:
§ Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
§ Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
§ Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
§ Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh.
E-learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.III. Manfaat E-learning
Secara singkat, e-learning memberikan manfaat sebagai berikut :
· Fleksibel
E-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa dilakukan dari mana saja baik yang memiliki akses ke Internet ataupun tidak. Bagi yang tidak memiliki koneksi internet, e-learning didistribusikan melalui movable media spe CD/DVD. Di samping itu pembelajar saat ini dapat pula memanfaatkan mobile technology seperti notebook, pda, atau telepon selular untuk mengakses e-learning. Fleksibiltas di dukung juga karena saat ini berbagai tempat sudah menyediakan sambungan internet / hot spot gratis menggunakan wi-fi atau wimax.
· Belajar Mandiri
E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar. Pembelajar bebas menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email, chat atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Bisa juga membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (Learning Management System).
· Efisiensi Biaya
Banyak efisiensi biaya bisa didapatkan dengan e-learning. Bagi penyelenggara, dalam hal ini universitas misalnya, biaya yang bisa dihemat antara lain :
§ Biaya administrasi pengelolaan (biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya dosen pengajar dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan),
§ Penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan ruang kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP).
Bagi pembelajar, seperti dijelaskan di depan, efisiensi biaya transportasi dan akomodasi dapat diperoleh. Di sektor bisnis/korporat misalnya, apabila sebuah perusahaan skala nasional dengan cabang di bebagai propinsi akan memberikan pelatihan bagi karyawannya dari seluruh cabang di Indonesia. Berapa biaya transportasi dan akomodasi yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan pelatihan tersebut ?. Para karyawan pun terpaksa harus meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti pelatihan. Berapa produktivitas yang hilang dengan mengikuti pelatihan secara konvensional. Dengan e-learning, material pelatihan dapat didistribusikan baik secara on-line maupun off-line ke seluruh cabang yang ada.IV. Di mana E-Learning Diimplementasikan ?
E-learning adalah suatu alternatif baru pola pembelajaran, yang menggabungkan aspek pengajaran dan pemanfaatan teknologi informasi. Sebagai suatu bentuk sistem pembelajaran, siapa sebenarnya yang membutuhkan sistem ini ?. Secara garis besar, saat ini e-learning telah diimplementasikan di 2 sektor yaitu :
· Sektor korporat atau perusahaan
· Sektor pendidikan
Di sektor korporat, e-learning dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan skala menengah-besar untuk memberikan pelatihan atau menditribusikan materi-materi training bagi karyawannya dengan cepat dan efisien. Dengan pola e-learning, material training seperti pengenalan produk baru (product knowledge), strategi pemasaran, kebijakan harga jual, dll dapat disiapkan dan didistribusikan secara lengkap dan terstruktur. Karyawan dapat secara fleksibel mengakses dan mempelajari pada waktu yang mereka atur sendiri menyesuaikan jadwal kerjanya. Dengan menerapkan.
Beberapa riset terhadap efisiensi yang diperoleh dengan mengimplementasi e-learning di sektor korporat :
§ Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000;
§ Aetna Insurance berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan
§ Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta
§ Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 - 1800 menjadi hanya USD 120 per orang.
Sektor lain yang membutuhkan untuk mengimplementasikan e-learning tentunya adalah sektor pendidikan. Saat ini memang e-learning sebagian besar masih diimplementasikan khususnya di intitusi pendidikan tinggi, perguruan tinggi atau universitas-universitas. Kebutuhan e-learning di sektor ini tak lepas dari faktor globalisasi dan efisiensi. Globalisasi pendidikan yang mendorong terjalinnya berbagai kerjasama pendidikan antara institusi pendidikan baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Kerjasama bisa berupa pengembangan materi, pembelajaran jarak jauh, pertukaran pengajar, penyediaan referensi / literatur, penyelenggaraan ujian, sertifikasi, dll. Untuk mendukung itu tentunya dibutuhkan suatu sarana dan media yang tepat, di sinilah E-Learning dibutuhkan. Efisiensi juga merupakan faktor pendorong mulai diimplementasikannya e-learning di beberapa institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Efisiensi baik bagi penyelenggara dalam hal ini pihak universitas maupun efisiensi bagi para mahasiswanya. Contoh sederhana misalnya penyelenggaraan kuliah bersama yang pada umumnya diberikan untuk materi-materi kuliah dasar di semester awal. Kuliah bersama akan diikuti oleh seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas atau jurusan. Dengan pembelajaran konvensional, penyelenggara harus menyediakan ruang dan sarana pendukung lainnya dengan volume yang relatif besar. Dengan e-learning, perkuliahan dapat didistrubusikan secara remote ke masing-masing fakultas/jurusan sehingga pengelolaan akanmenjadi lebih mudah dan efisien. Dan tentunya materi akan diberikan dengan standar dan kualitas yang sama.V. Peran Industri TI dalam Perkembangan E-Learning Secara Umum
E-learning berkembang dengan dukungan penuh teknologi informasi. Di sini lebih tepat kita menggunakan istilah “Teknologi Informasi atau TI“daripada sebatas istilah sempit “Software”. E-learning berkembang tidak sebatas karena munculnya teknologi-teknologi software baru melainkan lebih luas mencakup pula perkembangan teknologi perangkat komputer dan networking.
E-learning dikembangkan dari perpaduan aspek pembelajaran dan aspek teknologi. Dari sisi teknologi, keberhasilan e-learning mencakup perpaduan aspek teknologi :
· Software
· Hardware & Networking/communication
Secara garis besar, kontribusi atau peran dari perusahaan-perusahaan atau vendor TI terhadap perkembangan implementasi e-learning dapat dikategorikan menjadi dua , yaitu sebagai :
· Technology Provider
· Service ProviderTechnology Provider
Technology provider fokus pada pengembangan aplikasi e-learning dan platform berbasis web. Mereka mengembangkan software-software yang dibutuhkan baik untuk penyusunan material pembelajaran, hingga ke aplikasi pengelola sistem e-learning secara komprehensif. Technology provider mengembangkan software e-learning dan menjual lisensinya. Technology provider di bidang e-learning pun memiliki specialisasi yang berbeda, antara lain :
· Pengembang LMS -Learning Management System
Learning Management System (LMS) berfungsi untuk menyimpan, mengelola dan mendistribusikan berbagai material pelatihan, ujian/test yang telah disiapkan. LMS dilengkapi dengan katalog on-line sehingga pembalajar dapat mengakses, memilih dan menjalankan berbagai materi pelatihan yang ada. LMS mampu mencatat log atau tracking aktivitas setiap pembelajar yang memanfaatkan e-learning.
Beberapa pengembang LMS di dunia antara lain :
§ Web-CT
Web-CT merupakan salah satu leader di bidang e-learning software di dunia dengan spesialisasi untuk implementasi di institusi pendidikan.
§ BlackBoard
Dengan aplikasi Academic Suite-nya, Blackboard juga menjadi salah satu leader aplikasi e-learning untuk institusi pendidikan.
§ Plateau
§ Saba
§ SumTotal
§ Docent
§ Click2Learn
§ TEDS
§ RWD, dll
Beberapa contoh produk software di atas merupakan integrated package yang meman sudah didesain dan dikembangkan secara profesional dan siap diimplementasikan.
Sebenarnya instritusi penyelenggara e-learning baik institusi pendidikan maupun korporat dapat mengembangkan aplikasi LMS dari awal (from zero). LMS dapat dikembangkan sendiri dengan : VBScript, ASP, SQL Server atau Javascript, PHP, MySQL. Tetapi tentunya konsekuensi waktu, sdm, biaya perlu dipertimbangkan.
· Pengembang Software E-Learning Authoring
Beberapa vendor khusus mengembangkan software authoring atau software yang dibutuhkan untuk mendesain dan menyusun materi pelatihan interaktif, test, presentasi, simulasi, web content, dll, secara profesional dan testruktur dengan menggabungkan berbagai content multimedia.
Beberapa pengembang software e-learning authoring tool di dunia antara lain :
§ Microsoft (Powerpoint, Producer, Frontpage)
§ Macromedia (Authorware, Breeze, Dreamweaver)
§ Adobe ( Premiere)
§ Click2Learn
§ Allen
§ KnowledgePresenter
§ Lectora Publisher
§ Quest
§ ToolBook II Instructor
§ ReadyGo!
§ MindFlash , dll
· Pengembang E-Learning Content
Sebagian pengembang lain khusus mengembangkan e-learning content atau aplikasi yang berisikan tutorial pembelajaran, aplikasi test dan sertifikasi, simulasi, dll yang pada umumnya dikembangkan dengan mengacu pada satuan pelajaran dan kurikulum yang berlaku. Karena fokus produk pada content atau isinya, maka pengembangan produk jenis ini selalu melibatkan pakar-pakar di bidang pendidikan khususnya untuk materi yang akan diketengahkan.
Aplikasi yang dikembangkan bisa berbasis web, berbasis animasi multimedia, presentasi interaktif, atau gabungan dari itu semua.
· Hardware & Networking vendor
Beberapa vendor lebih memfokuskan pada dukungan di aspek perangkat keras dan insfrastruktur pendukung dalam implementasi e-learning dan aspek ini tentunya tak kalah penting dalam menentukan keberhasilan implementasi e-learning. Perkembangan-perkembangan baru dalam teknologi perangkat jaringan sangat mendorong perkembangan e-learning.
§ Di lini server, berbagai vendor seperti HP, IBM, Gateway, Acer, dll berlomba menciptakan server-server kelas enterprise dengan kemampuan clustering yang cocok dimanfaatkan sebagai e-learning server / web server.
§ Dalam hal konektivitas jaringan, munculnya teknologi fast-ethernet 100Mbps dan gigabit ethernet 1Gbps berkecapatan tinggi mampu mendistribusikan materi pembelajaran e-learning yang full multimedia-content dengan cepat. Aplikasi-aplikasi simulasi interaktif dapat diakses dengan ringan oleh pembelajar. Vendor perangkat jaringan skala dunia seperti Cisco System, Allied Telesyn, LinkSys, dll menyediakan berbagai perangkat pendukung e-learning mulai dari intelligent router dan switch yang canggih, hingga berbagai perangkat wireless network
§ Wireless network merupakan teknologi yang semakin banyak dimanfaatkan dan diimplementasikan di lingkungan institusi pendidikan seperti universitas / kampus, khususnya untuk mendukung e-learning yang dikembangkan. Di teknologi inipun sudah dimanfaatkan WLan-11 Mbps hingga 54MBps dan sebentar lagi akan diluncurkan protokol Wimax dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.Service Provider
Service provider lebih memfokuskan sebagai penyedia jasa pengembangan dan implementasi e-learning di sektor korporat maupun di institusi pendidikan. Layanan pada umumnya mencakup konsultansi, perancangan, integrasi, dukungan teknis dan berbagai jasa pendukung lainnya. Pada prakteknya beberapa e-learning service provider sekaligus menjadi e-learning outsourcing atau penyedia e-learning beserta content-nya bagi beberapa universitas atau institusi pendidikan yang tidak ingin repot dalam mengembangkan dan mengelola sistem e-learning di institusinya.
Beberapa e-learning service provider skala dunia antara lain :
· CollegisEduprise
· Campus Pipeline
· Embanet
· AXG Tecnonexo, dll
Di Indonesia pun, saat ini semakin bermunculan perusahaan IT yang menyediakan jasa sebagai service provider bidang E-learning. Segmen layanannya pun beragam antara lain :
· Jasa konsultasi perancangan dan pengembangan
· Implementator / licensor software e-learning dari vendor tertentu
· Desain dan penyusunan web content
· Pembuatan material training berbasis multimedia
· Penyedia layanan internet broadband connection
· Network integrator, dllVI. Dukungan Open Source untuk E-Learning
Jangan lupa bahwa produk-produk software e-learning dari berbagai vendor seperti dijelaskan di atas merupakan produk proprietary, sehingga untuk mengimplementasikannya tentunya dibutuhkan investasi dan biaya yang tidak kecil. Komponen investasi terbesar pada umumnya pada kepemilikan lisensi software-software e-learning yang dibutuhkan, baik sistem operasi, aplikasi LMS maupun software authoring untuk desain dan penyusunan material pembelajarannya
Apabila diinginkan efisiensi maka salah satu pilihan adalah pemanfaatan OpenSource software. Cukup menggembirakan bahwa komunitas opensource di dunia ternyata juga telah mulai mengembangkan berbagai aplikasi e-learning.
Dibidang LMS, ada beberapa produk opensource yang telah dikembangkan antara lain :
· A-LMS
· Anemalab
· Forel E-Learning LMS
· OLMS
· ILIAS, dll
Untuk pengembangan content atau material pembelajaran, dapat dimanfaatkan berbagai program authoring di platform Linux seperti : DrawSWF, OpenOffice Impress, dll.
Bagi institusi pendidikan di Indonesia, sejalan dengan program IGOS (Indonesia Goes to Open Source) yang merupakan program pemerintah untuk memasyarakatkan pemakaian opensource, semestinya berani untuk mulai memanfaatkan software-software opensource dalam mengembangkan e-learning di institusinya. Kreatifitas, kemandirian dan tentunya efisiensi akan lebih dirasakan dengan memanfaatkan opensource.VII. Perkembangan Software E-learning di Indonesia
Pengembangan software e-learning di Indonesia saat ini tampak semakin banyak dilakukan baik oleh institusi-institusi pendidikan untuk kepentingan intern proses belajar-mengajarnya, maupun oleh para vendor profesional untuk kepentingan komersial.
Di bidang pendidikan semakin banyak perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia mulai mengembangkan dan mengimplementasikan e-learning untuk melengkapi pola pembelajaran konvensional yang ada. Pengembangan pada umumnya dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan pihak ketiga sebagai implementator, integrator dan penyedia layanan komunikasi. SDM intern di institusi tersebut lebih memfokuskan pada pengembangan content atau materi pembelajaran yang akan disampaikan melalui e-learning tersebut.
Salah satu contoh perkembangan e-learning di bidang pendidikan seperti dilansir Detikinet (21/11/2005) :
Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama dengan 20 puluh universitas dari 11 negara di Asis yang tergabung di proyek School of Internet (SoI) Asia, meluncurkan platform Distance Learning atau pembelajaran jarak jauh generasi terbaru, yang pertama di dunia menggunakan teknologi multicast IPv6. Distance Learning dilaksanakan melalui perkuliahan, seminar, workshops, dan event khusus, baik secara real-time (langsung), maupun secara archived (terekam). Universitas-universitas yang jadi anggota, saling berbagi pengetahuan dan tenaga pengajar untuk keperluan mahasiswa-mahasiswa di 20 universitas ini
Untuk kepentingan komersial, semakin banyak pengembang software di Indonesia yang mengembangkan produk-produk software pembelajaran interaktif yang dapat mendukung e-learning. Beberapa produk yang ada di pasaran dikembangkan dengan konsep yang beragam. Beberapa produk dikembangkan dengan mengacu pada kurikulum pendidikan formal yang berlaku sehingga produk tersebut diharapkan dapat diterapkan dan dimanfaatkan di institusi pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pengembang lain memilih mengembangkan produk pembelajaran dengan materi yang bersifat lebih umum.
Beberapa contoh produk software pembelajaran di Indonesia :
· Pesona Fisika dan Pesona Matematika untuk SMP, SMA dari Kuantum Inti Dinamika
· Belajar Matematika Bersama Mr.Sicerdas untuk SD-SMP-SMA dari Wahana Komputer
· Software EduGames Maximize Studio untuk tingkat SD
· Software Anak Cerdas dari Akal Interaktif
· Software Tutorial Komputer dari BambooMedia, dll
Di bidang opernsource, terdapat pula penyedia content e-learning yang saat ini semakin berkembang dan semakin banyak dimanfaatkan yaitu IlmuKomputer.com. Situs e-learning nirlaba ini dikembangkan secara opensource, sehingga pembelajar dapat mengakses dan mendownload material-material tutorial seputar dunia komputer secara gratis.VIII. Perkembangan Selanjutnya
Untuk masa mendatang, perkembangan e-learning di Indonesia diyakini akan semakin pesat. Terlebih dengan kondisi perekonimian masyarakat yang semakin terpuruk karena dampak kenaikan BBM dan tingkat inflasi yang sedemikian tinggi.
E-learning akan semakin banyak diimplementasikan di universitas-universitas di tanah air. Di sektor korporat, diawali dari perusahaan-perusahaan besar PMA maupun PMDN akan mulai menerapkan kebijakan distance-learning atau pembelajaran jarak jauh untuk pelatihan bagi para eksekutif dan karyawannya, untuk memangkas biaya overhead pelatihan yang tinggi.
Meningkatnya kebutuhan implementasi dan resource e-learning, akan semakin menarik dan mendorong pengembang-pengembang lokal untuk menekuni bidang ini. Produk-produk software pendukung e-learning baik pengembangan content maupun software pengelola e-learning (LMS) akan semakin bermunculan, demikian juga perusahaan yang menyediakan jasa implementator.
Bagaimana perkembangan di dunia, dari hasil riset dapat diketahui gambaran pertumbuhan implementasi e-learning di dunia menurut IDC (International Data Corporation) : total pasar untuk pelatihan di sektor korporat sebesar US$66 miliar, dan rata-rata akan meningkat 5% per tahun. Termasuk di dalamnya pasar pelatihan korporat dengan basis on-line web training akan meningkat dari $2 miliar di tahun 2003 ke $11.5 miliar di tahun 2005.
Kemudian untuk sisi teknologi, software-software e-learning akan dikembangkan mengarah ke konsep Rapid-Development, yaitu pengembangan materi yang mudah dan cepat. Berbagai fitur dan fasilitas yang interaktif dan lengkap akan mempermudah dan mempercepat kita dalam mendesain, menyusun dan mengembangkan berbagai materi pembelajaran untuk mendukung e-learning.